Pengertian, Konsep, Serta Dalil-Dalil Tentang Istidroj

Pengertian, Konsep, Serta Dalil-Dalil Tentang Istidroj

Pengertian Istidroj

Istidroj adalah berasal dari kata ‘daraja’ dalam bahasa Arab yang berarti naik satu tingkatan ke tingkatan berikutnya. Namun, Istidraj lebih dikenal sebagai istilah azab yang berupa kenikmatan yang diberikan pada seseorang. Jadi, Allah SWT menguji hamba-hambanya yang lalai dalam batas dengan melimpahkan mereka kenikmatan dunia.

Padahal, segala hal yang dinikmati tersebut adalah suatu jebakan. Istidraj adalah tipuan yang diberikan oleh Allah SWT terhadap orang – orang yang membangkang terhadap-Nya. Dalam hal ini Allah SWT mengabulkan segala keinginan manusia dengan membukakan pintu – pintu kesenangan, yang mana hal itu sebenarnya adalah kehancuran, kenistaan, dan kesengsaraan kenangan.

Arti Istidraj, yaitu suatu jebakan berupa kelapangan rezeki padahal yang diberi keadaan terus menerus bermaksiat pada Allah. Jadi, ketika Allah membiarkan kita sengaja meninggalkan shalat, meninggalkan puasa, tidak ada perasaan berdosa ketika bermaksiat, berat untuk bershadaqah, merasa bangga dengan apa yang dimiliki, mengabaikan semua atau mungkin sebagian perintah Allah, menganggap enteng perintah – perintah Allah, merasa umurnya panjang dan tetapi Allah tetap memberikan mereka harta yang, senang, hidup aman, tidak sakit dan tidak juga tertimpa musibah Bersiaplah untuk menantikan konsekuensinya, karena janji Allah itu Maha Benar.

Pada saat seseorang tertimpa istidrāj, ia sangat terlena dengan semua yang dia punya, sehingga lupa bahwa semuanya hanyalah titipan sementara. Dia lupa bersyukur atas nikmat yang diberikan, begitu juga ia melakukan kemaksiatan tanpa merasa berdosa. Dan mengangggap nikmat yang Allah Swt berikan sebuah sebuah isian.

Ketika hal ini terjadi, maka akan berakibat pada akhirnya mendapatkan siksaan dari arah yang tidak disangka-sangka. Maka dari itu, perlu meminta pertolongan kepada Allah Swt dan juga mengasah keimanan agar terus meningkat sehingga menyadari bahwa hakikat nikmat dan siksaan.

Hal seperti ini biasanya memang diberikan Allah kepada orang-orang kafir dan ahli maksiat. Seperti keterangan berikut: “Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa mempersembahkan tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tanggapan kepada mereka. dan bagi mereka azab yang menghinakan. ” (Ali ‘Imran: 178)

“Mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan-apakah kepada mereka tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (Al Mu’minun: 55-56)

“Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan Perkataan ini (Alquran). kemudian Kami akan menarik mereka dengan beransur-ansur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, ” (Al Qalam: 44)

Jadi, ketika ada orang yang tidak shalat, tidak puasa Ramadhan, gemar bermaksiat, tetapi hidupnya makmur, sejahtera, dan bergelimang kemewahan, ini adalah tanda-tanda istidraj. Ketika seseorang meraih pangkat dan jabatan atau kemenangan dengan cara-cara yang zalim dan menghalalkan segala cara, sebenarnya hal ini juga pengertian istidraj dalam Islam.

Demikian pula, kalau ada negara yang kufur kepada Allah, menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, melegalkan beragam bentuk maksiat, menambahkan orang-orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, melarang larangan atau berbagai aktivitas dakwah. Negara itu bisa saja secara zahir tampak maju di berbagai aspek kehidupan. Namun, kemajuan itu tidak lain adalah istidroj.

Konsep Istidroj

Ibadah Kita Semakin Turun, Namun Kesenangan Makin Melimpah Ibnu Athaillah berkata : “Hendaklah engkau takut jika selalu mendapat karunia Allah, selama engkau tetap dalam perbuatan yang maksiat kepada-Nya, jangan sampai karunia itu sendiri-mata istidraj oleh Allah”

Kita melakukan Maksiat, Tapi Malah Makin Banyak Kesenangan Ali Bin Abi Thalib ra berkata: “ Hai anak Adam ingat dan waspadalah bila kau lihat Tuhanmu yang terus menerus melimpahkan nikmat atas dirimu selama engkau terus-terus melakukan maksiat kepadaNya ” (Mutiara Nahjul Balaghoh Hal 121)

Semakin Kita Kikir, Namun Semakin Banyak Kita ketahui bahwa sebetulnya Sodaqoh dapat membuat harta kita semakin banyak. Ketika kita dihinggapi sifat kikir, tak pernah zakat, infak, shadaqah ataupun mengulurkan bantuan orang lain. Namun justru justru harta semakin melimpah ruah. menjadi salah satu ciri khas istidraj dalam islam.

Jarang Sakit. Imam Syafi’I pernah menyebut: Setiap orang pasti pernah mengalami sakit suatu saat dalam hidupnya, jika Anda tidak pernah sakit maka tengoklah ke belakang mungkin ada yang salah dengan dirimu.

Cara Menghindari Istidroj

Meningkatkan Keimanan Jadikan keimanan kita kepada Allah SWT sebagai dasar bagi kita dalam menjalankan kehidupan di dunia. Karena dengan iman yang kuat keberkahan yang sejati akan kita dapatkan dalam hidup.

Mengerjakan Amal Sholeh Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman. sesungguhnya kami akan memberikan kehidupan yang baik dan sungguh-sungguh kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-nahl ayat 97).

Berdoa Doa merupakan obat yang paling ampuh bagi umat muslim. Berdoa dengan sungguh-sungguh merupakan cara kita meminta kepada Allah secara langsung agar diberikan keberkahan harta, waktu, keluarga dan juga kenikmatan dunia yang lainnya.

Namun jangan sampai nikmat tersebut melalaikan kita, menjadikan kita malas untuk mengisi, berbangga diri dan menyepelekan orang lain. Bahkan membuat kita semakin jauh dari Allah subhanahu wa ta’ala. Ingatlah bahwa sebaik-baiknya kenikmatan yang akan kita dapatkan di akhirat kelak kenikmatan yang kekal selama-nya.

memperbanyak Intropeksi Diri Senantiasa intropeksi diri adalah hal terbaik untuk mengukur dan mengingatkan diri sendiri agar terhindar dari perbuatan yang tidak memperhatikan Allah SWT.

Ketika hati diingatkan untuk memohon ampun, maka “perahu” yang menyelamatkan dari arus istidraj. Agar sinyal taubat itu ada, seorang pelayannya menjaga diri dari harta yang haram dan selalu konsisten dalam menjalankan perintah-perintah Allah SWT.

Dalil – Dalil Tentang Istidroj

Adapun dalil dalam Alquran yang menjelaskan tentang Istidraj ialah Surah Al- An’am ayat 44:

فلما نسوا ما ذكروا به فتحنا عليهم ابواب كل شىء حتى اذا فرحوا بما اوتوا اخذنهم بغتة فاذا هم مبلسون

Fa lammaa nasuu maa zukkiruu bihii fatahnaa ‘alaihim abwaaba kulli syaii’, hattaaa izaa farihuu bimaaa uutuuu akhoznaahum baghtatang fa izaa hum mublisuun

Artinya: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga ramah-tamah mereka dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”

Semoga Kita dan keluarga bukan golongan, penerima istiraj, azab berupa kenikmatan dari Allah SWT. Biasanya, Istidraj terjadi pada umat Islam yang lalai dalam jalan. Namun, mereka selalu merasakan kenikmatan di dunia.

Misalnya, seorang umat yang tidak pernah menunaikan salat dan mengerjakan amalan lain, tetapi dilimpahkan rezeki begitu banyak. Namun, kenikmatan yang membuat mereka terlena adalah sebuah jebakan atau azab dari Allah SWT.

Sebagaimana yang diterangkan dalam Alquran Surah Ali Imran ayat 178 :

ولا يحسبن الذين كفروا انما نملي لهم خي ر لانفسهم انما نملي لهم ليزدادوا اثما ولهم عذاب مهين

Wa laa yahsabannallaziina kafaruuu annamaa numlii lahum khoirul li ‘angfusihim, innamaa numlii lahum liyazdaaduuu ismaa, wa lahum azaabum muhiin

Artinya: “Dan jangan sekali-kali orang-orang kafir itu mengira bahwa tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka lebih baik. Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka hanyalah bahwa dosa semakin bertambah, dan mereka akan mendapat azab yang menghinakan. ”

Wallahualam bissawab

Baca juga :

 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.